Generasi milineal tidak terlepas dari penggunaan ponsel pintar sebagai media teknologi komunikasi terbaru. Perkembangan massif teknologi ponsel cerdas dari permulaan tahun 2000- an semakin menekankan penyederhanaan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Dampak negatif yang dirasa dari perkembangan ponsel pintar adalah lahirnya perilaku ‘phubbing’. ‘Phubbing’ berasal dari dua kata ‘phone’ dan ‘snubbing’ yang mengandung arti tindakan mengabaikan orang lain ketika berinteraksi komunikasi sosial dengan lebih fokus memperhatikan ponsel dari pada berbicara dengan orang-orang yang dihadapan. Pelaku ‘phubbing’ atau diistilahkan ‘phubber’ seringkali banyak menimpa generasi milineal yang melek dengan teknologi informasi. Perilaku phubbing menjadi gejala sosial yang dapat mengganggu kenyamanan proses komunikasi. Seorang komunikator (pengirim pesan) ataupun komunikan (penerima pesan) akan terganggu dengan aktifitas salah satu pihak yang seolah-olah memperhatikanya padahal ia tidak peduli dengan orang lain (melakukan perilaku apatis). Hal ini termasuk sebuah penyimpangan dalam etika berkomunikasi dan dapat merusak hubungan yang harmonis antara komunikator dengan komunikan.
- Pengertian Phubbing
Istilah phubbing berasal dari kata “phone” dan “snubbing,” yakni menggambarkan tindakan mengabaikan orang lain ketika berinteraksi komunikasi sosial dengan lebih fokus memperhatikan ponsel dari pada berbicara dengan orang-orang yang dihadapannya (Haigh, 2015).
Dalam interaksi sosial, phubber istilah yang diberikan kepada pelaku phubbing dan phubbee adalah istilah bagi korban perilaku phubbing. Phubbing bisa diartikan sebagai individu yang lebih memperhatikan ponselnya saat berkomunikasi dengan orang lain dan menghindar dari komunikasi antar pribadi (Karadag et. al, 2015)
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa Pubbing merupakan sikap seseorang yang lebih memfokuskan diri pada smartphone yang di genggamanya ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain, namun seakan-akan fokusnya ditujukan kepada lawan bicaranya. Seseorang yang mengalami perilaku Phubbing cenderung mengabaikan lawan bicaranya, karena perhatian lebih terfokus pada perangkat smartphone.
- Gejala-Gejala Perilaku Phubbing
Berikut adalah gejala-gejala perilaku Phubbing, sebagai berikut (Reid, 2018).
- Setiap saat selalu dekat dengan ponsel, dan tidak bisa jauh-jauh darinya. Contohnya, sudah keluar dari rumah, memilih kembali ke rumah karena lupa membawa ponsel.
- Berinteraksi verbal dengan orang lain berdurasi sebentar dan cenderung mengabaikan lawan bicara, karena perhatian lebih terfokus pada perangkat smartphone masing-masing. Memeriksa ponsel dilakukan kapan pun, tanpa jeda dalam percakapan dengan orang lain. Cederung memilih media sosial dalam menjalin komunikasi.
- Menjadi panik jika tidak ada handphone
- Menggunakan ponsel sebagai selingan untuk menghindari pekerjaan atau tugas sehari-hari.
- Jika menonton TV, lebih memeriksa ponsel ketika ada jeda iklan atau saat-saat adegan yang dirasa membosankan.
- Mudah teralihkan dari percakapan jika mendapat pesan teks atau notifikasi dari media sosial.
- Faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Phubbing
Berikut adalah faktor-faktor penyebab terjadinya perilaku phubbing (Lestari & Ilawaty, 2020)
- Faktor internal yang menjadi penyebab utama siswa kecanduan handphone adalah faktor tingkat sensation seeking yang rendah dan kontrol diri yang rendah. asenation seeking ini artinya adalah kebosanan, sedangkan kontrol diri berarti seseorang yang
tidak bisa mengontrol diri untuk suatu hal yang berkaitan dengan kesenangan. Jadi, ketika dia bosan, dia butuh hal yang mengasikkan dan membuat senang. Bermain handphone adalah salah satu cara terbaiknya.
- Faktor eksternal yang menjadi penyebab utama siswa kecanduan handphone adalah faktor media. Faktor ini terkait dengan tingginya paparan media tentang telepon genggam dan berbagai fasilitasnya. Semakin tinggi paparan media tentang iklan telepon genggam maka makin besar kemungkinan menyebabkan mobile phone addict.
- Faktor situasional yang menjadi penyebab utama siswa kecanduan handphone adalah faktor kejenuhan belajar. Artinya, saat mereka merasa jenuh dalam belajar, mereka akan bermain handphone. Jika hal ini terus-terusan terjadi, maka akhirnya akan membuat anak kecanduan bermain handphone.
- Faktor sosial yang menjadi penyebab utama siswa kecanduan adalah handphone adalah faktor connected presence. Connected presence sendiri diartikan sebagai keinginan untuk berinteraksi dengan sosial yang berasal dari dalam diri sendiri. Hasrat atau keinginan untuk menjalin interaksi sosial tanpa ada paksaan dan kharusan dari manapun.
- Dampak Penyebab Perilaku Phubbing
Dampak yang akan terjadi pada seseorang yang mengalami Phubbing adalah sebagai beriku (Fanani, 2022)t:
- Sulit untuk bersosialisasi: Seseorang yang mengalami phubbing cenderung sulit untuk menjalankan fungsinya sehari-hari karena lebih fokus pada Smartphone-nya
- Anti sosial: Seseorang yang mengalami phubbing akan merasa bahwa kebutuhan
sosialnya sudah terpenuhi dari Smartphone-nya dan pada akhirnya melepaskan interaksi secara langsung dengan sosialnya.Orang yang kecanduan hp karena dia merasa bahwa yang ada hanya dunia maya
- Pola tidur tidak teratur: Dampak kecanduan gadget pada remaja yang pertama adalah perihal rutinitas tidur. Remaja yang selalu mengutamakan gadget di atas segalanya pasti menemukan kesulitan ketika ia hendak tidur. Pasalnya, cahaya biru buatan yang datang dari gadget atau alat elektronik lainnya dapat mengurangi hormon melatonin yang memicu tidur. Remaja yang enggan menaruh gadget dan memilih untuk bermain gadget pada malam hari akan merasakan dampak kecanduan gadget ini yaitu kesulitan untuk tidur. Hal itu tentu berdampak kurang baik bagi remaja dan akan mengurangi fokus mereka pada siang hari
- Gangguan penglihatan: Layar gadget yang mengandung cahaya biru buatan membuat mata orang yang menatapnya menjadi berkurang ketajamannya. Ini merupakan dampak kecanduan gadget pada remaja yang cukup berbahaya. Remaja yang mengalami gangguan penglihatan terpaksa harus menggunakan kacamata supaya bisa tetap melihat objek dengan jelas. Mata mereka menjadi kabur karena jarak pandang mereka yang terlalu dekat dengan gadget. Penglihatan yang kabur itu juga disebabkan karena mata yang terus menerus melihat gadget.
- Kesehatan memburuk: Dampak kecanduan gadget pada remaja selanjutnya
yang perlu diwaspadai adalah perihal kesehatan tubuh. Remaja yang terlalu lama bermain gadget dan akan membawa dampak ke postur tubuh dan berat badan yang tidak seimbang. Sebagian besar kasus di dunia, banyak remaja yang mengalami sakit punggung, sakit leher, sakit tangan, sakit kepala, dan lain sebagainya yang disebabkan karena terlalu sering bermain gadget. Bahkan dalam kasus yang lebih parah bisa menimbulkan diabetes, obesitas, dan kebutaan.
- Perubahan Mental: Selain kondisi fisik yang terganggu, kondisi mental remaja yang kecanduan gadget juga akan mengalami masalah. Salah satu dampak kecanduan gadget ini merupakan salah satu kekhawatiran yang ditimbulkan akibat gadget. Kondisi ini akan sangat mengubah kebiasaan remaja ketika mereka kecanduan gadget. Para remaja yang mengalami dampak kecanduan gadget akan kehilangan minat dalam hal lain selain dunia gadget. Ia tidak akan lagi memiliki hobi lain, lebih malas, dan akan berdampak pada kondisi akademik mereka. Ini
tentu sangat mengkhawatirkan. Satu-satunya dunia yang mereka tekuni adalah gadget. Itu akan membuatnya tidak ingin melepaskan diri dari gadget.
- Mengurangi kemampuan belajar: Selanjutnya, dampak kecanduan gadget yang perlu diwaspadai adalah kemampuan belajar yang menurun. Terlalu sering menggunakan gadget akan mengorbankan hal-hal lain di luar dunia gadget. Ini tentu akan sangat merugikan. Para remaja akan kesulitan dalam mengatur waktu mereka dan kecanduan gadget ini akan membuat remaja kesulitan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik. Remaja yang terlalu sering menggunakan gadget akan merasa tidak punya waktu untuk melakukan hal lain. Konsekuensinya, nilai akademiknya akan menurun.
- Tips menghindari perilaku Phubbing
Berikut adalah tips menghindari perilaku kecanduan smartphone (Phubbing) sebagai berikut (Pasya, 2016) :
- Memperbanyak sosialisasi dengan lingkungan sekitar/ orang terdekat: Seringlah berkumpul bersama keluarga ataupun teman-teman kalian,
karena jika selalu sendirian maka unjung-ujungya tidak bisa jauh dari smartphone. Disaat bersama keluarga atau teman cobalah untuk tidak menggunakan smartphone, apalagi sampai terlalu fokus terhadap smartphone hingga tidak peduli/mengabaikan kehadiran orang lain disekitar kita.
- Mematikan Smartphone 30 menit sebelum tidur:
Jika sebelum tidur kalian mempunyai kebiasaan memainkan smartphone, maka mulai dari sekarang kebiasaan tersebut harus dibuang jauh-jauh, agar kita dapat terlepas dari perilaku pubbing. Mematikan Smartphone 30 menit sebelum tidur juga berfungsi agar kita lekas tidur dan kembali segar saat di pagi hari.
- Gunakanlah Smartphone dengan positif
Dalam penggunaan Smartphone, utamakan menggunakan aplikasi yang memberikan manfaat positif, hapuslahlah beberapa aplikasi yang memberikan manfaat tidak baik/ negatif.
- Membatasi penggunaan Smartphone:
Cobalah untuk memberikan batasan waktu saat kalian menggunakan Smartphone. Misalnya saja kalian tidak boleh menggunakan Smartphone disaat- saat tertentu. Seperti saat sedang berkumpul bersama keluarga, teman dan saat makan.
- Menyimpan Smartphone saat bepergian:
Disarankan kalau memang Smartphone tidak benar-benar dibutuhkan saat bepergian sebaiknya disimpan didalam tas atau saku.Hal ini dilakukan agar kalian tidak sedikit -sedikit mengecek notifikasi yang ada di Smartphone dan agar tidak terus-terusan menggunakan Smartphone.
- Mengetahui dampak dari kecanduan Smartphone
Cobalah mencari informasi tentang bahaya Phubbing, bila kalian menegtahui dampaknya, pasti akan berpikir ulang untuk terlalu sering bermain Smartphone
Fanani. (2022). 6 Dampak Kecanduan Gadget pada Remaja yang Perlu Diwaspadai, Orang Tua Wajib Tahu. Merdeka.. https://www.merdeka.com/sumut/6-dampak-kecanduan-gadget-pada-remaja- yang-harus-diwaspadai-kln.html
Pasya. 2016. 6 Tips Mudah Kurangi Kecanduan pada Gadget. Cermati. https://www.cermati.com/artikel/6-tips-mudah-kurangi-kecanduan-pada-gadget
Haigh, A. (2015). Stop phubbing. tersedia di http://stopphubbing.com
Karadag, E., Tosuntas, S.B., Erzen, E., Duru, P., Bostan, N., S ¸ ahin, B. M., Babadag, B. (2015). Determinants of phubbing, which is the sum of many virtual addictions:a structural equation model. Journal of Behavioral Addictions, http://dx.doi.org/10.1556/2006.4.2015.005
Lestari, & Ilawaty. (2020). FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB SISWA KECANDUAN HANDPHONE STUDI DESKRIPTIF PADA SISWA DI SMP NEGERI 13 KOTA BENGKULU. CONSILIA Jurnal Ilmiah BK, 3(1), 23-
37. Retrieved from https://ejournal.unib.ac.id/index.php/j_consilia/article/viewFile/9473/6047
Reid, Alan J. (2018). The Smartphone Paradox: Our Ruinous Dependecy in The Device Age. Conway, USA: Coastal Carolina University.